Pages

Minggu, 15 Oktober 2017

Terimakasih untuk itu

Lagi lagi aku bingung. Bingung kenapa bisa seperti itu. Sebenarnya sudah biasa bagi saya, tapi mungkin tidak bagi anda.
Hujan tak seperti biasanya, kali ini berbeda. Memang aku suka hujan. Ketika air itu perlahan turun, ketika tetesan itu semakin banyak, dan ketika perasaan semakin besar. Aku tidak tau kapan itu terjadi kapan itu dimulai. Yang kutau hujan selalu paham dengan perasaan. Maybe karna setiap hujan turun hati ini terasa damai. Aku suka hujan karna saat menangis bersama hujan mereka manusia tidak akan pernah tau bahwa aku menangis tetapi hujan tau mengapa aku menangis. Hujan lebih tau dan paham apa yg aku rasakan. Bagai berlian tiap butir yang terus menetes.

Aku bahkan bingung apa yang harus aku lakukan sekarang, dan setelah ini. Perasaan itu terus muncul dan semakin hari semakin besar. Aku tidak tau kapan aku jatuh pada mantramu, yang aku tau sekarang perasaanku beda terhadapmu. Maybe i'm wrong about you.

Waktu itu dan saat itu aku merasa seolah semuanya biasa saja. Tapi semakin hari semua beda. Hingga pada akhirnya berpuncak pada malam itu.

Aku salah, iya aku yang salah. Aku salah terhadapmu. Seakan akan semua tak berujung seakan akan semua tidak menemukan titik temu. Semua semakin rumit saja. Its very complicated hmm.

Aku sudah berusaha melupakan seperti angin yg berlalu pergi seperti hujan yang datang membasahi kemudian kering bersama sinar matahari.
Aku berusaha mengabaikan, memaafkan apa yang terjadi saat itu. Aku mencoba biasa seolah olah tidak ada masalah. Aku tidak marah, aku hanya kecewa. Tapi untuk baik dan kenal lagi mungkin sudah tidak seperti dulu.

Terimakasih sudah mengajarkan arti pertemuan di ambang perkenalan, terimakasih sudah membuatku tahu dan sadar. Terimakasih sudah pernah memberikan kebaikan. Terimakasih dan semoga kamu paham, apa sisi yg berbeda itu.